Minggu, 03 Oktober 2010
etika
Etik adalah terminologi dengan berbagai makna. Singkatnya,etik berhubungan dengan bagaimana seseorang harus bertindak dan bagaimana mereka melakukan hubungan dengan orang lain. Etik tidak hanya menggambarkan sesuatu tetapi lebih kepada perhatian dengan penetapan norma atau standar kehidupan seseorang dan yang seharusnya dilakukan ( Mandel,Boyle dan O’donohoe,1994 ). Etik dititik beratkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk,karakter,motif atau tindakan yang benar dan salah. Jika didefinisikan secara umum terminologo moral dan etik adalah sama,meskipun terdapat sedikit perbedaan. Etik juga dapat digunakan untuk mendiskripsikan suatu pola atau cara hidup,sehingga etik merefleksikan sifat,prinsip dan standar seseorang yang mempengaruhi perilaku professional. Cara hidup moral perawat telah dideskripsikan sebagai “Etik perawatan” ( Bevis,1998;Leynier,1998;Watson,1998 ). Perawatan adalah sebuah kata moral yang mengarahkan bagaimana seorang perawat harus bertindak dan berinteraksi dengan orang lain.
Nilai dan etik saling berhubungan. Nilai yang membentuk moralitas pribadi dan professional,mempengaruhi etik hubungan perilaku dan professional,mempengaruhi etik hubungan dari keputusan seseorang. Nilai berdasarkan pengalaman,agama,pendidikan dan budaya. Sumber nilai lain bagi perawat adalah profesi perawat dan institusi tempat ia bekerja. Etik seseorang akan lahir dari nilai yang ia yakini.
B. Etik dalam Keperawatan
1. Etik perawatan
Etik perawatan dikaitkan dengan hubungan antar-masyarakat dan dengan karakter serta sikap perawat terhadap orang lain. Pengetahuan perawatan diperoleh melalui keterlibatan pribadi dan emosional dengan orang lain dengan ikut terlibat dalam masalah moral mereka. ( cooper,1991 )
2. Kode etik keperawatan
Kode etik diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Karena memiliki monopoli atas keahlian tertentu selalu ada bahaya profesi menutup diri bagi orang luar,sehingga dapat menimbulkan kecurigaan. Kode etik dapat mengimbangi hal ini dengan adanya kode etik kepercayaan masyarakat akan suatu profesi dapat diperkuat,karena setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepentingannya akan terjamin.
Kode etik keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat. Kode etik merupakan salah satu ciri atau persyaratan profesi yang memberikan arti penting dalam penentuan,mempertahankan dan meningkatkan standar profesi. Apabila seorang anggota melanggar kode etik profesi oarganisasi profesi dapat memberi sanksi. Kode etik: American Nurses Assotiatiton, International Council of Nurses, Canadian Nurses Assotiation, PPNI.
PPNI menyadari bahwa perawat Indonesia yang berjiwa Pancasila dan berlandaskan pada UUD 1945 merasa terpanggil untuk menunaikan kewajiban dalam bidang keperawatan dengan penuh tanggung jawab,berpedoman pada dasar-dasar seperti tertera pada uraian di bawah ini.
Tanggung jawab perawat meliputi :
a. Tanggung jawab perawat terhadap individu,keluarga dan masyarakat.
b. Tanggung jawab perawat terhadap tugas
c. Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lainnya
d. Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan
e. Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,bangsa dan tanah air.
C. Pola Hubungan Kerja Perawat dalam Pelaksanaan Praktik Professional
Dalam melaksanakan tugasnya perawat harus dapat bekerja sama dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan tugasnya untuk memberikan pelayanan yang baik pada individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat.
Pola hubungan kerja perawat dibedakan menjadi :
a. Hubungan kerja perawat-pasien
b. Hubungan kerja perawat-sejawat
c. Hubungan kerja perawat-profesi lain yang berkaitan
d. Hubungan kerja perawat-institusi tempat bekerja
D. Dilema Etik
Dilema etik muncul ketika kesehatan seseorang mengalami masalah yang berhubungan dengan ketaatan terhadap prinsip yang menyebabkan konflik dalam bertindak. Terlihat bahwa adanya kebutuhan untuk tetap menghargai otonomi klien,tetapi dilain pihak terlihat ada kendala atau masalah yang mungkin tidak seperti yang diharapkan. Hal ini tertentu saja sangat mengecewakan karena tidak ada satu metode pun yang mudah dan aman untuk menetapkan prinsip-prinsip mana yang lebih penting, bila terjadi konflik diantara kedua prinsip yang berlawanan.
Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua atau lebih landasan moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana setiap alternative memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk menentukan yang benar atau salah dan dapat menimbulkan strees pada perawat karena dia tahu apa yang harus dilakukan,tetapi banyak rintangan bentuk melakukannnya. Dalam dilemma etik tidak ada yang benar atau salah. Untuk membuat keputusan yang etis,seorang perawat tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan emosional.
E. Prinsip Moral dalam Praktik Keperawatan
Berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu tindakan dilarang,diperlukan atau diijinkan dalam situasi tertentu ( John Stone,1989 )
a. Autonomi
Kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur sendiri
b. Benefisien
Melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien atau tidak menimbulkan bahaya bagi pasien.
c. Justice
Bertindak adil bagi semua individu
d. Verasity
Kewajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau tidak membohongi klien atau orang lain.
e. Avoiding killing
Kewajiban perawat untuk menghargai kehidupan
f. Fidelity
Kewajiban perawat untuk tetap setia pada komitmennya.
F. PEMBAHASAN
Perawat merupakan profesi yang luhur,karena perawat dalam bekerja menangani langsung kepada manusia. Makadari itu perawat dituntut untuk memiliki keahlian dibidangnya,agar bisa memberikan pelayanan yang maksimal kepada klien. Salah satu cara yang ditempuh adalah melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Akan tetapi praktik di lapangan berbeda jauh dengan teori. Banyak sekali perawat dalam melaksanakan tugasnya tidak memperhatikan perannya sebagai seorang perawat. Salah satu contohnya pada kasus di bawah ini.
Pada hari kamis,18 juni 2009 pukul 12.33 Ny.”J” berusia 35 th,mengalami kecelakaan namun tidak mengalami luka yang serius, Ny.”J” hanya mengalami lecet-lecet pada kaki kiri bagian bagian bawah dalam. Kemudian salah satu perawat senior menyuruh seorang praktikan untuk membersihkan luka tersebut. Kemudian praktikan mengumpulkan alat dan bahan untuk membersihkan luka tersebut. Karena kondisi saat itu sedang banyak klien,sehingga semua alat tidak ada yang tidak terpakai,pertama praktikan mengambil bengkok yang saat itu belum dibersihkan karena baru saja dipakai jadi belum sempat dibersihkan,kemudian praktikan bertanya kepada perawat senior apakah masih ada bak instrument yang tidak digunakan,untuk meletakkan kasa steril dan waktu itu posisi praktikan masih membawa bengkok. Tiba-tiba saja dokter H mengambil kasa dengan korentang dan meletakkan di bengkok yang dibawa praktikan yang baru saja digunakan untuk melakukan tindakan pada klien lain dan belum dibersihkan. Meskipun perawat senior mengetahui hal tersebut tetapi perawat senior hanya diam saja. Tetapi kapas tersebut tidak digunakan oleh praktikan karena praktikan tahu kalau kapas tersebut sudah terkontaminasi dan bila tetap digunakan mungkin dapat menimbulkan bahaya bagi klien.
Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat dilema etik yang timbul antara perawat dengan tim kesehatan lain yang terkait,dengan penjabaran sebagai berikut :
a. Hal yang dilakukan perawat dan dokter tersebut melanggar norma atau peraturan yang ada di puskesmas tersebut.
b. Hal tersebut juga melanggar prinsip moral dalam keperawatan yang juga merupakan unsur-unsur yuang terdapat pada dilema etik keperawatan antara lain menghargai kehidupan dan bertindak dengan tidak merugikam klien.
c. Etika ada hubungannya dengan aspek legal dan justice,tindakan perawat tersebut juga melanggar legalitas peraturan di puskesmas tersebut serta kejujuran dan keadilan yang merupakan hak klien.
d. Etika keperawatan juga menyinggung masalah autonomi baik itu autonomi pasien,keluarga dan lingkungan sekitarnya,dan tindakan perawat serta dokter tersebut tidak mencerminkan adanya autonomi bagi klien.
e. Fidelity,salah satu kewajiban perawat untuk tetap setia pada komitmennya,yaitu bertindak sesuai dengan perannya untuk melindungi klien,namun tindakan tersebut di atas tidak menunjukkan adanya usaha untuk melindungi klien.
Jalan keluar yang dapat ditempuh
1. Penyelesaian Lapangan
Praktikan tidak menggunakan kapas tersebut karena mengetahui kapas tersebut sudah terkontaminasi dengan kotoran yang ada di bengkok.
2. Penyelesaian
a. Praktikan memberi contoh baik yaitu tetap menjaga kebersihan alat-alat yang akan digunakan untuk melakukan tindakan kepada klien.
b. Menanyakan kepada perawat senior mengenai tindakan yang benar secara halus.
c. Membersihkan alat-alat yang tadi siang digunakan dan belum sempat dibersihkan,sehingga apabila klien banyak alat yang digunakan dapat mencukupi.
fracture femur
POST OP FRACTURE FEMUR DEXTRA
A. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. . (Brunner & Suddart, 2001)
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa.
B. Etiologi
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
a. Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
b. Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula.
c. Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
2. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :
a. Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif.
b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri.
c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
3. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
C. Kalsifikasi Fraktur
Penampikan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
a. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal).
b. Fraktur tidak komplit adalah patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Seperti :
Greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok.
2. Berdasarkan sifat fraktur.
a. Fraktur tertutup (fraktur simple) tidak menyebabkan robeknya kulit.
b. Fraktur terbuka (fraktur kompleks) merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai ke patahan tulang.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade:
1) Grade I
a) Luka bersih panjangnnya kurang dari 1 cm
b) Kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
c) Fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
d) Kontaminasi ringan.
2) Grade II
a) Laserasi lebih dari 1 cm
b) Luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak ekstensif, avulse
c) Fraktur komuniti sedang.
3) Grade III
Luka yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
a. Transversal
Fraktur sepanjang garis tengan tulang
b. Oblik
Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang (lebih tidak stabil disbanding transversal)
c. Spiral
Fraktur memuntir seputar batang tulang
d. Kompresi
Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
e. Avulsi
Tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada perlekatannya
4. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1) Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh.
2) Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
d) Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
e) Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang
f) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
Jenis yang lain :
1. Depresi
Fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah)
2. Epifiseal
Fraktur melalui epifisis
3. Impaksi
Fraktur di mana fragmen tulang terdorong kefragmen tulang lainnya.
D. Patofisiologi
Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu :
1. Fase hematum
a. Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan, edema, hematume disekitar fraktur
b. Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat
2. Fase granulasi jaringan
a. Terjadi 1 – 5 hari setelah injury
b. Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis
c. Itematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah baru fogoblast dan osteoblast.
3. Fase formasi callus
a. Terjadi 6 – 10 harisetelah injuri
b. Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus
4. Fase ossificasi
a. Mulai pada 2 – 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh
b. Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam kalsium yang menyatukan tulang yang patah
5. Fase consolidasi dan remadelling
a. Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan oksifitas osteoblast dan osteuctas.
(Black, 1993 : 19 ).
E. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan local. dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terlihat mau pun teraba) ekstermitas yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan ekstermitas normal. Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada intregitas tulang tempat melengketnya otot.
3. Pada fraktur yang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melingkupi satu sama lain sampai 2, 5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).
4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu sama dengan lainnya.
5. Pembengkakan dan perubahan warna local pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
2. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
3. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
4. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal
G. Komplikasi
Pada kasus ini jarang sekali terjadi komplikasi karena incisi relatif kecil dan fiksasi cenderung aman. Komplikasi akan terjadi bila ada penyakit penyerta dan gangguan pada proses penyambungan tulang.
H. Penatalaksanaan
Prinsip dari penanganan adalah :
1. Mobilisasi berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk mengembalikan fungsi anggota badan seperti sebelum patah.
a. Static contraction
Static contraction merupakan kontraksi otot secara isometrik untuk mempertahankan kestabilan tanpa disertai gerakan (Priatna, 1985). Dengan gerakan ini maka akan merangsang otot-otot untuk melakukan pumping action sehingga aliran darah balik vena akan lebih cepat. Apabila sistem peredaran darah baik maka oedema dan nyeri dapat berkurang.
b. Latihan pasif
Merupakan gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar sedangkan otot penderita rileks (Priatna, 1985). Disini gerakan pasif dilakukan dengan bantuan terapis.
c. Latihan aktif
Latihan aktif merupakan gerakan murni yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh pasien itu sendiri. Tujuan latihan aktifmeningkatkan kekuatan otot (Kisner, 1996). Gerak aktif tersebut akan meningkatkan tonus otot sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi makanan akan diedarkan oleh darah. Dengan adanya oksigen dan nutrisi dalam darah, maka kebutuhan regenerasi pada tempat yang mengalami perpatahan akan terpenuhi dengan baik dan dapat mencegah adanya fibrotic.
d. Latihan jalan
Salah satu kemampuan fungsional yang sangat penting adalah berjalan. Latihan jalan dilakukan apabila pasien telah mampu untuk berdiri dan keseimbangan sudah baik. Latihan ini dilakukan secara bertahap dan bila perlu dapat menggunakan walker. Selain itu dapat menggunakan kruk tergantung dari kemampuan pasien. Pada waktu pertama kali latihan biasanya menggunakan teknik non weight bearing ( NWB ) atau tanpa menumpu berat badan. Bila keseimbangan sudah bagus dapat ditingkatkan secara bertahap menggunakan partial weight bearing ( PWB ) dan full weight bearing ( FWB ). Tujuan latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara mandiri walaupun masih dengan alat bantu.
2. Mencegah infeksi pada daerah luka jahitan.
I. Asuhan Keperawatan
Di dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan system atau metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap ini. Tahap ini terbagi atas:
a. Pengumpulan Data
1) Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
i. Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
ii. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
iii. Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
iv. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
v. Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. (Ignatavicius, Donna D, 1995)
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang (Ignatavicius, Donna D, 1995).
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius, Donna D, 1995).
f) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995).
g) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak.(Ignatavicius, Donna D,1995).
(2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak. (Keliat, Budi Anna, 1991)
(4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Marilynn E, 1999).
(5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(6) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakuatan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius, Donna D, 1995).
(9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak, lama perkawinannya (Ignatavicius, Donna D, 1995).
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif (Ignatavicius, Donna D, 1995).
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien (Ignatavicius, Donna D, 1995).
2) Pemeriksaan Fisik
a) Gambaran Umum
(1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda, seperti:
(a) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung pada keadaan klien.
(b) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
(c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk.
(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
(a) Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
(b) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala
(c) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
(d) Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
(e) Mata
Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan)
f) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
(g) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
(h) Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
(i) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
(j) Paru
(1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
(2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
(3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
(k) Jantung
(1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
(2) PalpasiTes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri tekan.
(3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
(l) Abdomen
(1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
(2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
(3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
(4) Auskultasi
Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.
(m) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
3) Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksaan Radiologi
Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray). Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit, maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral.
b) Pemeriksaan Laboratorium
1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang.
3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
c) Pemeriksaan lain-lain
1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.
2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi.
3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.(Ignatavicius, Donna D, 1995)
b. Analisa Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dikelompokkan dan dianaisa untuk menemukan masalah kesehatan klien. Untuk mengelompokkannya dibagi menjadi dua data yaitu, data sujektif dan data objektif, dan kemudian ditentukan masalah keperawatan yang timbul.
2. Diagnosa Keperawatan
Merupakan pernyataan yang menjelaskan status kesehatan baik aktual maupun potensial. Perawat memakai proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mengsintesa data klinis dan menentukan intervensi keperawatan untuk mengurangi, menghilangkan, atau mencegah masalah kesehatan klien yang menjadi tanggung jawabnya.
Diagnosa yang sering muncul antara lain:
a. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri,pembengkakan, prosedur bedah,immobilisasi.
b. Nyeri akut b/d trauma jaringan syaraf
c. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. mual, muntah
e. Risti infeksi b.d. inflamasi bakteri ke daerah luka
3. Perencanaan
a. Nyeri akut b/d agen injuri biologis
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam klien mampu mengontrol nyeri, dengan kriteria hasil :
1) Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
2) Mengikuti program pengobatan yang diberikan
3) Menunjukan penggunaan tekhnik relaksasi
Intervansi :
1) Kaji tipe atau lukasi nyeri. Perhatikan intensitas pada skala 0-10. Perhatikan respon terhadap obat.
Rasional : Menguatkan indikasi ketidaknyamanan, terjadinya komplikasi dan evaluasi keevektivan intervensi.
2) Motivasi penggunaan tehnik menejemen stres, contoh napas dalam dan visualisasi.
Rasional : Meningkatkan relaksasi, memvokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan koping, menghilangkan nyeri.
3) Kolaborasi pemberian obat analgesic
Rasional : mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri,pembengkakan, prosedur bedah.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam klien mampu :
1) Klien berpartisipasi dalam mobilitas fisik
2) Klien mampu melakukan Range Of Motion (ROM)
3) Klien mampu mobilisasi dengan menggunakan alat bantu
Intervensi :
1) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik.
Rasional : meningkatkan kepercayaan diri klien dalam menjalankan rencana tindakan yang akan diintruksikan perawat
2) Instruksikan pasien untuk latihan rentang gerak pada ekstremitas.
Rasional : memperlancar peredaran darah pada bagian ektrimitas klien
3) Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat.Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
Rasional : melatih kemandirian klien
4) Awasi TD saat beraktivitas.
Rasional : mengetahui keadaan umum klien
c. Nutisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi dengan KH:
1) Makanan masuk
2) BB pasien naik
3) Mual, muntah hilang
Intervensi:
1) Berikan makan dalam porsi sedikit tapi sering
Rasional: memberikan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien
2) Sajikan menu yang menarik
Rasional: Menghindari kebosanan pasien, untuh menambah ketertarikan dalam mencoba makan yang disajikan
3) Pantau pemasukan makanan
Rasional: Mengawasi kebutuhan asupan nutrisi pada pasien
4) Kolaborasi pemberian suplemen penambah nafsu makan
Rasional: kerjasama dalam pengawasan kebutuhan nutrisi pasien selama dirawat di rumah sakit.
d. Ansietas b/d adanya ancaman terhadap konsep diri/citra diri
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 X 24 jam, klien memiliki rentang respon adaptif, dengan kriteria hasil :
1) Tampak relaks dan melaporkan ansietas menurun sampai dapat ditangani.
2) Mengakui dan mendiskusikan rasa takut.
3) Menunjukkan rentang perasaan yang tepat.
Intervensi :
1) Dorong ekspresi ketakutan/marah
Rasional : Mendefinisikan masalah dan pengaruh pilihan intervensi.
2) Akui kenyataan atau normalitas perasaan, termasuk marah
Rasional : Memberikan dukungan emosi yang dapat membantu klien melalui penilaian awal juga selama pemulihan
3) Berikan informasi akurat tentang perkembangan kesehatan.
Rasional : Memberikan informasi yang jujur tentang apa yang diharapkan membantu klien/orang terdekat menerima situasi lebih evektif.
4) Dorong penggunaan menejemen stres, contoh : napas dalam, bimbingan imajinasi, visualisasi.
Rasional : membantu memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan relaksasi, dan meningkatkan penigkatan kemampuan koping.
e. Risiko infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur pembedahan.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam resiko infeksi berkurang ditandai dengan :
1) Luka bersih
2) Tidak ada pus atau nanah
3) Luka kering
Intervensi
1) Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
Rasional : teknik aseptic dapat mengurangi bakteri pathogen oada daerah luka.
2) Inspeksi luka,perhatikan karakteristik drainase.
Rasional : untuk mengobservasi keadaan luka, sehinggga dapat menentukan tindakan selanjutnya.
3) Awasi tanda-tanda vital.
Rasional : tanda-tanda vital untuk mengetahui keadaan umum klien
4) Kalaborasi Pemberian antibiotik.
Rasional : antibiotic dapat membunuh bakteri yang dapat menyebabkan infeksi.
f. Kerusakan Integritas Kulit Atau Jaringan Berhubungan dengan pelepasan Pen, Kawat, Sekrup
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai dengan Kriteria Hasil :
1) tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
2) luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
3) Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi :
1) Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
Rasional : mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
2) Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
Rasional: mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.
3) Pantau peningkatan suhu tubuh.
Rasional : suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.
4) Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.
Rasioanl: tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
5) Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
Rasional: agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
6) Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
Rasional: balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
7) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Rasional: antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan terhadap klien baik secara umum maupun secara khusus pada klien post op remove ORIF femur. Pada pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen, interdependen dan dependen.
Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai oleh perawat itu sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Pada fungsi interdependen adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/ disiplin ilmu yang lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan, sedangkan fungsi dependen adalah fungsi yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas pesan orang lain.
5. Evaluasi
a. Nyeri klien berkurang dengan skala 1-2
b. Nutrisi klien terpenuhi
c. Tidak terjadi kerusakan integritas kulit
d. Klien tidak merasa cemas
e. Tidak terjadi infeksi
f. Klien dapat mobil menggunakan alat bantu
Rabu, 05 Mei 2010
RETARDASI MENTAL
RETARDASI MENTAL
- PENGERTIAN
Retardasi mental adalah suatu keadaan dimanan seseorang memiliki kemampuan mental yang tidak mencukupi(WHO)
Retardasi Mental adalah kelainan fungsi intelektual yang subnormal terjadi pada masa perkembangan dan berhubungan dengan satu atau lebih gangguan dari ;
b. Maturasi
c. Proses belajar
d. Penyesuaian diri secara social
- ETIOLOGI
Kelainan ini dapat digolongkan menjadi :
a. Penyebab Organik
1). Faktor prenatal :
Ø Penyakit kromosom ( Trisomi 21 ( Sindrom Down)
Ø Sindrom Fragile X
Ø Gangguan Sindrom ( distrofi otot Duchene, neurofibromatosis ( tipe 1)
Ø Gangguan metabolisme sejak lahir ( Fenilketonuria )
2). Faktor Perinatal :
Ø Abrupsio plasenta
Ø Diabetes maternal
Ø Kelahiran premature
Ø Kondisi neonatal termasuk meningitis dan perdarahan intracranial
3). Faktor Pasca natal :
Ø Cedera kepala
Ø Infeksi
Ø Gangguan degeneratif
b. Penyebab non organik
Kemiskinan dan keluarga tidak harmonis
Sosial cultural
Interaksi anak kurang
Penelantaran anak
c. Penyebab lain : Keturunan,pengaruh lingkungan dan kelainan mental lain
Retardasi mental dapat juga disebabkan oleh gangguan psikiatris berat dengan deviasi psikososial atau lingkungan ( Ilmu Kesehatan Anak FKUI,
3. MANIFESTASI KLINIS
v Gangguan kognitif ( pola, proses pikir )
v Lambatnya ketrampilan ekspresi dan resepsi bahasa
v Gagal melewati tahap perkembangan yang utama
v Lingkar kepala diatas atau dibawah normal ( kadang-kadang lebih besar atau lebih kecil dari ukuran normal )
v Kemungkinan lambatnya pertumbuhan
v Kemungkinan tonus otot abnormal ( lebih sering tonus otot lemah )
v Kemungkinan ciri-ciri dismorfik
v Terlambatnya perkembangan motoris halus dan kasar
- PATOFISIOLOGI
Retardasi mental merujuk pada keterbatasan nyata fungsi hidup sehari-hari. Retardasi mental ini termasuk kelemahan atau ketidakmampuan kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak ( sebelum usia 18 tahun ) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal ( IQ 70 sampai 75 atau kurang ) dan disertai keterbatasan-keterbatasan lain pada sedikitnya dua area fungsi adaftif : berbicara dan berbahasa , kemampuan/ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial, penggunaan sarana-sarana komunitas, pengarahan diri , kesehatan dan keamanan , akademik fungsional, bersantai dan bekerja.
Penyebab retardasi mental bisa digolongkan kedalam prenatal, perinatal dan pasca natal. Diagnosis retardasi mental ditetapkan secara dini pada masa kanak-kanak.
- CLINICAL PATHWAY
Prenatal
Retardasi Mental Perinatal
Pasca natal
Ketidakmampuan kognitif
(IQ <70-75)
![]()
Berbicara berbahasa ketrampilan merawat
![]()
![]()
![]()
Gangguan pertumbuhan
dan perkembangan Gangguan komunikasi Kurang perawatan diri
- KRITERIA DIAGNOSTIK
- Fungsi intelektual yang secara signifikan berada dibawah rata-rata . IQ kira-kira 70 atau kurang ( untuk bayi penilaian klinis dari fungsi fungsi intelektual dibawah rata2 ).
- Kekurangan atau kerusakan fungsi adaptif yang terjadi bersamaan ( mis. efektifitas seseorang dalam memenuhi harapan kelompok budayanya terhadap orang seusianya) dalam sedikitnya dua area berikut : komunikasi, perawatan diri , kerumahtanggaan, ketrampilan sosial dan interpersonal, penggunaan sarana-sarana masyarakat pengarahan diri, ketrampilan akademik fungsional , bekerja, bersantai , kesehatan dan keamanan.
- Awitan terjadi sebelum usia 18 tahun.
Kode dibuat berdasarkan tingkat keparahan yang tercermin dari kerusakan inteletual :
317 Retardasi mental ringan ( Tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70 )
318.0. Retardasi mental Sedang ( Tingkat IQ 35-40 sampai 50-55 )
318 .1. Retardasi mental berat ( Tingkat IQ 20-35 sampai 35-45 )
318.2. Retardasi mental yang amat sangat berat (Tingkat IQ dibawah 20-25)
319 Retardasi mental dengan keperahan yang tidak disebutkan: jika
terdapat dugaan kuat adanya retardasi mental tetapi emintelligence orang tsb tidak dapat diuji dengan test Standar.
7. KOMPLIKASI
v Serebral palcy
v Gangguan kejang
v Gangguan kejiwaan
v Gangguan konsentrasi /hiperaktif
v Defisit komunikasi
v Konstipasi
8. UJI LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
v Uji intelegensi standar ( stanford binet, weschler, Bayley Scales of infant development )
v Uji perkembangan seperti DDST II
v Pengukuran fungsi adaftif (
9. PENATALAKSANAAN MEDIS
Berikut ini adalah obat-obat yang dapat digunakan :
§ Obat-obat psikotropika ( tioridazin,Mellaril untuk remaja dengan perilaku yang membahayakan diri sendiri
§ Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda gangguan konsentrasi/gangguan hyperaktif.
§ Antidepresan ( imipramin (Tofranil)
§ Karbamazepin ( tegrevetol) dan propanolol ( Inderal )
Pencegahan :
§ Meningkatkan perkembangan otak yang sehat dan penyediaan pengasuhan dan lingkungan yang merangsang pertumbuhan
§ Harus memfokuskan pada kesehatan biologis dan pengalaman kehidupan awal anak yang hidup dalam kemiskinan dalam hal ini ;
- perawatan prenatal
- pengawasan kesehatan reguler
- pelayanan dukungan keluarga
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian terdiri atas evaluasi komprehensif mengenai kekurangan dan kekuatan yang berhubungan dengan ketrampilan adaptif ; komunikasi, perawatan diri, interaksi sosial, penggunaan sarana-sarana di masyarakat pengarahan diri, pemeliharaan kesehatan dan keamanan, akademik fungsional, pembentukan ketrampilan rekreasi dan ketenangan dan bekerja.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
· Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b.d. kelainan fungsi kognitif
· Gangguan komunikasi verbal b.d. kelainan fungsi kognitif
· Risiko cedera b.d. perilaku agresif ketidakseimbangan mobilitas fisik
· Gangguan interaksi social b.d. kesulitan bicara/ kesulitan adaptasi sosial
· Gangguan proses keluarga b.d. memiliki anak retardasi mental
· Deficit perawatan diri b.d. perubahan mobilitas fisik /kurangnya kematangan perkembangan.
C. INTERVENSI
· Kaji factor penyebab gangguan perkembangan anak
· Indentifikasi dan gunakan sumber pendidikan untuk memfasilitasi perkembangan anak yang optimal
· Berikan perawatan yang konsisten
· Tingkatkan komunikasi verbal dan stimualsi taktil
· Berikan instruksi berulang dan sederhana
· Berikan reinforcement positif atas hasil yang dicapai anak
· Dorong anak melakukan perawatan sendiri
· Manajemen perilaku anak yang sulit
· Dorong anak melakukan sosialisasi dengan kelompok
· Ciptakan lingkungan yang aman
D. PENDIDIKAN PADA ORANG TUA
· Perkembangan anak untuk tiap tahap usia
· Dukung keterlibatan orang tua dalam perawatan anak
· Bimbingan antisipasi dan manajemen menghadapi perilaku anak yang sulit
· Informasikan sarana pendidikan yang ada dan kelompok
E. HASIL YANG DIHARAPKAN
· Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya
· Keluarga dan anak mampu menggunakan koping terhadap tantangan karena adanya ketidakmampuan
· Keluarga mampu mendapatkan sumber-sumber sarana komunitas
DAFTAR PUSTAKA
Betz and Sowden,2002,Buku Saku Keperawatan Pediatri,Penerbit EGC
Gordon et.al,2001,Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2001-2002,Philadelpia
Nelson,1994,Ilmu Kesehatan Anak Jilid I,EGC
Lusmilasari L,2002,Asuhan Keperawatan Klien dengan Retardasi Mental(materi kuliah tidak di publikasikan),PSIK FK UGM Jogjakarta.
perawat
bersama